Konon katanya, dulu tepatnya masa
revolusi, terjadi perdebatan yang sangat sengit antara lembaga-lembaga
kebudayaan saat itu. Tentu saja perdebatan yang terjadi berkaitan dengan
soal-soal gagasan kebudayaan khususnya sesuai dengan konteks sosial waktu itu.
Perdebatan waktu itu terjadi antara kelompok yang mengusung konsep humanisme
yang begitu universal sehingga enggan menjadikan seni semata sebagai medium
eksploitasi ideologi dan politik, lebih suka pada kebebasan karya termasuk
bentuk bahasa, pencarian struktur. Maka karyanya pun lebih bicara tentang
kemanusiaan yang tak terjebak politik partisan, mengeksplorasi bahasa,
permainan struktur dan bereksperimen bentuk penyajian teks. Sepintas kelompok
ini nampak netral dalam artian tidak berpihak terhadap golongan manapun, namun
jika kita perhatikan kenetralannya adalah keberpihakannya karena cenderung
merelakan yang kuat bertambah kuat dan yang lemah wajar untuk dijajah. Sementara
kelompok lawannya membawa gagasan peduli pada kelompok tertentu terutama
kelompok yang lemah. Bagi anggota kelompok ini seni bukan hanya sekedar untuk
seni, namun seni harus berpihak terhadap cita-cita kemanusiaan yakni turut
menghilangkan penghisapan manusia pada manusia yang lainnya.