Sabtu, 11 Januari 2014

Resensi; " Menyoal Pemilu 2014" Catatan Awal Tahun Politik







 Oleh ; Almukromin ( Romi )
Resensi Terbitan Titik Press; “Menyoal Pemilu 2014”
Catatan Awal Tahun Politik
           
“Menyoal Pemilu 2014” adalah terbitan pertama sekaligus perubahan gaya dan bentuk penulisan yang di gagas oleh Gerakan Pemuda Patriotik Indonesia ( GPPI ) Komisariat Kampus UIN Jakarta sebagai catatan awal tahun politik menuju pemilu 2014 bulan April mendatang. Berawal dari sebuah agenda diskusi rutin mingguan yang menganalisis Pemilu secara objektif dari segala sudut pandang, hingga melahirkan sebuah notulensi diskusi yang sengaja ditulis oleh para pemapar diskusi sekaligus penulis untuk menyajikan hasil analisis kepada khalayak umum untuk referensi serta bahan penimbang dalam persiapan pelaksanaan pemilu 2014 mendatang. Bentuk tulisan yang disajikan pada terbitan ini tidaklah terlihat beda jika disandingkan dengan tulisan – tulisan para aktifis bahkan bisa disebut dengan kaum revolusioner yang menyajikan data – data serta menganilis suatu keadaan secara objektif tanpa harus ‘pandang bulu’. Akan tetapi pandangan masyarakat umum tidaklah sama, tidak banyak juga yang berkata bahwa tulisan ini begitu frontal yang menurut sebagian orang akan membahayakan bagi penulis bahkan kelompok itu sendiri. Dan menurut saya, kebenaran akan tetap menjadi kebenaran yang memang harus di perjuangkan. Bahkan keluwesan bahasa yang digunakan penulis membuat kreatifitas menulis serta ruang berfikir menjadi semakin luas sehingga bukan menyajikan teori – teori kosong yang tidak sesuai dengan realita saat ini tetapi justru menyajikan sebuah gagasan yang terlahir dari kondisi objektif masyarakat saat ini.

Minggu, 05 Januari 2014

Pernyataan Sikap GPPI KOKAM UIN JAKARTA ; "TIPU MUSLIHAT KENAIKAN GAS ELPIJI MENUJU APRIL"


Negara Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, begitu pun dalam hal minyak dan gas bumi. Namun liberalisasi kebijakan dan ekonomi mendorong penguasaan asing terhadap kepemilikan sumber daya tersebut.
Rakyat kini mulai berteriak kembali atas apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan pengusaha swasta pertamina. Runtutan agenda politik beserta kebijakan-kebijakan yang menghisap rakyat telah diatur dalam sajian dan peta politik menjelang pemilu April mendatang.
Disinyalir bahwa kenaikan gas elpiji hari rabu, 1 januari 2014 yang lalu adalah lahan basah bagi para koruptor untuk melancarkan aksinya. Kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan harga okok perolehan dan penurunan nilai mata uang ruoiah terhadap dolar, hal ini disebabkan oleh total kepemilikan asing terhadap gas indonesia.

Bayangkan saja jika gas yang kita miliki harus dikuasai asing terbesar 57% selain itu kita harus mendapat pengaruh inflasi yang terjadi terhadap pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dollar sebesar 0,13%. Dalam situasi seperti ini seharusnya pemerintah punya kendali yang kuat untuk menjaga stabilitas perekonomian negara dengan merujuk pada UUD 1945 pasal 33.

Lagi - lagi rakyat miskin Indonesia harus menjadi korban, sektor UMKM semakin tergerus dengan kenaikan harga gas tersbut. Peristiwa ini sengaja dimanfaatkan oleh para elit politik dan partai2 untuk pencitraan media dengan seolah - olah menanggapi hal ini. Namun kita lihat bagaimana permainan ini disajikan, buktinya sampai hari ini negara kita tetap diperbudak oleh negeri imperealis.

Oleh sebab itu kami dari Gerakan Pemudan Patriotik Indonesia (GPPI) Kokam UIN Jakarta menyatakn sikap ;
1. Menolak kenaikan harga gas elpiji penyebab kesengsaraan rakyat
2. Menolak Pemilu April mendatang bentuk manifestasi kebobrokan sistem dan rahim para koruptor
3. Lawan Rezim Komprador yang tunduk pada kebijakan negeri imperealis
4. Kembali pada Pancasila dan UUN 1945
— bersama Maharini Dian Pertiwi dan 15 lainnya.