Minggu, 05 Januari 2014
Pernyataan Sikap GPPI KOKAM UIN JAKARTA ; "TIPU MUSLIHAT KENAIKAN GAS ELPIJI MENUJU APRIL"
Negara Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat melimpah, begitu pun dalam hal minyak dan gas bumi. Namun liberalisasi kebijakan dan ekonomi mendorong penguasaan asing terhadap kepemilikan sumber daya tersebut.
Rakyat kini mulai berteriak kembali atas apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan pengusaha swasta pertamina. Runtutan agenda politik beserta kebijakan-kebijakan yang menghisap rakyat telah diatur dalam sajian dan peta politik menjelang pemilu April mendatang.
Disinyalir bahwa kenaikan gas elpiji hari rabu, 1 januari 2014 yang lalu adalah lahan basah bagi para koruptor untuk melancarkan aksinya. Kenaikan tersebut dipicu oleh kenaikan harga okok perolehan dan penurunan nilai mata uang ruoiah terhadap dolar, hal ini disebabkan oleh total kepemilikan asing terhadap gas indonesia.
Bayangkan saja jika gas yang kita miliki harus dikuasai asing terbesar 57% selain itu kita harus mendapat pengaruh inflasi yang terjadi terhadap pelemahan nilai mata uang rupiah terhadap dollar sebesar 0,13%. Dalam situasi seperti ini seharusnya pemerintah punya kendali yang kuat untuk menjaga stabilitas perekonomian negara dengan merujuk pada UUD 1945 pasal 33.
Lagi - lagi rakyat miskin Indonesia harus menjadi korban, sektor UMKM semakin tergerus dengan kenaikan harga gas tersbut. Peristiwa ini sengaja dimanfaatkan oleh para elit politik dan partai2 untuk pencitraan media dengan seolah - olah menanggapi hal ini. Namun kita lihat bagaimana permainan ini disajikan, buktinya sampai hari ini negara kita tetap diperbudak oleh negeri imperealis.
Oleh sebab itu kami dari Gerakan Pemudan Patriotik Indonesia (GPPI) Kokam UIN Jakarta menyatakn sikap ;
1. Menolak kenaikan harga gas elpiji penyebab kesengsaraan rakyat
2. Menolak Pemilu April mendatang bentuk manifestasi kebobrokan sistem dan rahim para koruptor
3. Lawan Rezim Komprador yang tunduk pada kebijakan negeri imperealis
4. Kembali pada Pancasila dan UUN 1945 — bersama Maharini Dian Pertiwi dan 15 lainnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar