Rabu, 04 Desember 2013

G-30-S & PKI
Konspirasi dibalik penanaman mindshet

Jika ada bagian sejarah yang dicat kelabu di atas kelabu, inilah bagian
itu. Orang-orang dan kejadian-kejadian tampak seperti kebalikan si
Schlemihl, seperti bayang-bayang yang kehilangan tubuh.1
Karl Marx, Th e Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte (1852)

            Bulan September merupakan bulan yang kelam bagi beberapa negara seperti Chile yang terjadi kudeta kekuasaan oleh para politisi sayap kanan terhadap pemerintahan yang berhaluan kiri dengan menumpas habis semua masyarakatnya yang berhaluan sosialis. Begitupun dengan sejarah kelam Indonesia, bulan September merupakan sejarah kelam dalam wacana perpolitikannya.
Tepat pada 30 september 1965 terjadi Gerakan 30 September yang lebih terknal dengan G-30-S. peristiwa penculikan tujuh jendral yang katanya dibunuh dengan sadis dan mayatnya dibuang ke lubang buaya. sebuah riak kecil ditengah-tengah samudra (soekarno) tetapi kenapa peristiwa ini seakan menjadi tragedi kemanusian yang begitu besar, bukankah pasca G-30-S terjadi penumpasan lebih 300.000 Jiwa masyrakat Indonesia yang katanya mereka adalah anggota maupun simpatisan PKI. Pertanyaannya adalah “apa hubungan G-30-S dengan PKI? “apa alasan yang factual untuk menyatakan bahwa G-30-s di dalangi oleh PKI? Dan “apa pembunuhan masal 300.000 jiwa pasca G-30-S  bukanlah tragedy kemanusian yang besar ketimbang pembunuhan tujuh jendral?
Sebuah pertanyaan sederhana yang semestinya dapat dijawab seluruh masyarakat Indonesia yang mengutuk habis-habisan PKI.
Kilas balik sejarah
Menjelang seperempat awal abad ke-20 bangsa Hindia Belanda perlahan mulai menemukan jati dirinya, cikal bakal aura menuju kemerdekaan mulai terasa diringi dengan kemunculannya organisasi-organisasi pergerakan yang di dirikan oleh para pemuda pribumi. Berdirinya SDI, Budi Utomo, Indische Partij, Muhammadiyah dan lain sebagainya.
            Memasuki tahun 1920, organisasi-organisasi pergerakan melahirkan partai-partai politik seperti PNI, PKI, Partindo dan lain sebagainya. Pada  masa ini bangsa pribumi sudah mulai mengenal ikatan nation, nama Indonesia sudah mulai popular khusunya di kalangan pelajar dan pemuda pribumi.
            Partai Komunis Indonesia lahir sejak perpecahan yang terjadi dalam Sarkat Islam. Sarekat Islam yang terbagi menjadi dua antara SI putih yang di prakarsai oleh gengnya H. Agus Salim dan kawan serta SI merah yang dimotori oleh  Semaun dkk. Dari Si merah inilah kemudian pada tahun 1919 semaun mendirikan PKH (Partai Komunis Hindia) dan kemudian pada tahun 1920 berubah lagi menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia).
 PKI adalah sebuah partai  dengan anggota kurang lebih tiga juta orang yang terdiri dari kaum buruh dan petani yang sangat terorganisir. Bahkan dia adalah partai politik pertama yang menggunakan kata Indonesia dalam oragnisasi politiknya. Kalau pemerintah berniat bersikukuh bahwa “PKI” mengorganisasikan G-30-S, maka pemerintah harus mampu menjelaskan siapa di dalam PKI yang mengorganisasikan gerakan tersebut. Apakah tiga juta anggota partai secara keseluruhan bertanggung jawab? Atau kah sebagian? Atau hanya pimpinan partai? Apakah pihak pimpinan itu Central Comite atau Politbiro? Sepanjang masa kepemimpinan Suharto pemerintah tidak pernah dengan telak mengidentifikasi siapa di dalam PKI yang bertanggung jawab. Malahan, dengan secara terus-menerus menggunakan istilah “PKI” masyarakat
digiring untuk percaya bahwa bukan hanya seluruh tiga juta anggota partai yang bertanggung jawab, tetapi juga siapa pun yang berhubungan dengan partai, seperti para anggota organisasi-organisasi sealiran (seperti Lekra), bertanggung jawab.

            Peristiwa  G-30-S lebih tepat dilihat sebagai deep politics (poiltik terselubung) untuk penumpasan PKI, pengambilalihan kekuasaan Negara oleh tentara, dan pergeseran tajam posisi strategis Amerika Serikat di Asia Tenggara.  Lewat kecerdikan si super hero (Suharto) teragedi G-30-S dikemas menjadi arena menarik untuk dimainkan. Lewat peran media, film documenter G-30-S, bahkan monumen kesaktian pancasila mencekoki masyarakat untuk terus mengingat dan membenci G-30-S atau PKI. Pada akhirnya saya harus mengatakan bahwa G-30-S adalah “konspirasi dibalik penanaman mindshet” yang secara berhasil telah mengelabui semua masyarakat untuk percaya dan mengutuk PKI meskipun ada atau tidak adanya alasan factual mereka. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar