Selasa, 08 Oktober 2013

EMANSIPASI UNTUK EKSPLOITASI



Sebuah ironi terjadi dalam perjalanan wanita Indonesia menuju emansipasi yang telah diidam-idamkan oleh pelopor emansipasi wanita, R.A. Kartini jauh ratusan tahun silam. Emansipasi yang dewasa ini lebih diartikan sebagai upaya penyamaan derajat kaum wanita untuk sejajar dengan kaum pria membuat wanita Indonesia harus gigit jari. Dalam dunia politik misalnya, tuntutan persamaan hak membuat pemerintah kemudian mengakomodasi keterwakilan perempuan Indonesia dengan kuota 30 % yang diatur dalam UU partai politik dan UU pemilu. Ini merupakan angin segar bagi warga negara yang selama ini selalu disubordinasikan oleh budaya patriarki dan pandangan parsial agama terhadap perempuan. Ironisnya, kuota tersebut menjadi alas an bagi mesin politik parpol untuk memanfaatkan perempuan hanya untuk mendapatkan suara atau sebagai vote getter (meminjam istilah Madani Nurhayati). Sedangkan dalam praktek lapangan tetaplah para kader pria yang lebih ditonjolkan.

Dari sisi peran sosial tak jauh berbeda, perempuan memang mulai terlihat mengerjakan hal-hal yang dahulunya didominasi dan menjadi eksklusifitas lelaki. Namun, perempuan-perempuan seperti ini juga kadang terjebakdalam peran sosial tersebut. Lihat saja kasus para wanita yang meggantikan posisi suaminya untuk mencari nafkah bahkan sampai harus melanglang buana menjadi TKI ke luar negeri. Banyak dari mereka harus menelan pil pahit dengan memperoleh penganiyaan fisik, diperkosa serta didzolimi dengan perbuatan-perbuatan tidak senonoh lainnya. Perlakuan seperti itu didapatkan dari sang majikan yang notabenenya adalah pria. Peristiwa in seringkali nimpa pada perempuan-perempuan Indonesia dengan latar belakang ekonomi kurang berkecukupan. Mereka akhirnya hanya bisa pasrah dan legowo bila kahirnya dikecewakan dalam niat suci dan mulianya untuk menghidupi keluarga.

Sedangkan untuk perempuan Indonesia yang mengaku diri moder dan berkecukupan, saya kira mereka tidaklah lebih beruntung. Fenomena makin besarnya angka perempuan yang bekerja di media baik itu di belakang layer maupun sebagai objek pemberitaan dan hiburan, atau fenomena menjadi terkenal dengan cara instant oleh casting dan ajang pencarian bakat di media. Ini seakan menjadi stimuli candu bagi perempuan-perempuan cantik dan modern tersebut.
Dengan mengatasnamakan emansipasi mereka tampil di media khususnya televise sebagai ikon hiburan yang tanpa mereka sadari juga menjadikan mereka ikon kapitalis. Saya katakan ikon kapitalis disini kareena sudah menjadi wacana dan sering diangkat dalam diskusi ilmiah bahwa kapitalisme media merujuk salah satunya pada pornomedia –hal-hal yag membangkitkan syahwat- ini sudah tak bisa dipungkiri. Da bahwa objek dari pornomedia tersebut, apa lagi kalau bukan sensitifitas dan keindahan wanita. Wanita dieksploitasi untuk kepentingan para konglomerat media. Contohnya, begitu banyak iklan di televise yang menggunkan perempuan dan sifat-sifat keindahan mereka untuk memasrakan produk-produk iklan tersebut. Atau para selebritis, penyanyi, dan pemain film yang atas nama emansipasi berani mempertontonkan aurat di hadapan publik, yang dalam pandangan saya hanya menguntungkan satu pihak yakni pihak kaum patriarkat –lelaki- . dengan demikian perempuan-perempuan yang mengaku modern ini tak jauh bedanya dengan perempuan yang secara terang- terangan dilecehkan. Bukankah bedanya hanya pada kesadaran dilecehkan, disubordinasikan dan dimanfaatkan. Apakah inilah yang dikatakan emansipasi?

Emansipasi Yang diEksploitasi
Berbagai konsekuensi yang muncul akibat dari peny-impangan terhadap kehidupan keterasingan sosok perempuan. Mereka yang juga memiliki kebebasan hidup tanpa imbalan apapun, bebas dari segala sesuatu belenggu oleh kaum penindas, yang sebagian mereka berwajah maskulin. Namun, mereka memiliki topeng yang bermacam-macam, mulai dari budaya patriarkhi sampai budaya kapitalisme, yakni budaya yang hanya menginginkan profit (baca; imbalan) dalam industri bisnis. Mereka bergerak secara halus dalam memani-pulasi konstruksi realitas dalam media. Tanpa kita sadari, eksploitasi terhadap perempuan menjadi dealektika sejarah kehidupan sosial.
Tekanan-tekanan kaum penindas ini sebagai simbol munculnya arus gerakan feminisme. Feminisme adalah basis teori dari pembebasan perempuan. Mereka tidak ingin melihat adanya penyimpangan yang terjadi pada perempuan. Ideologi gerakan feminisme adalah pembongkaran terhadap ideologi penindasan, pengeksploitasian, dan hal negatif yang menimpa sosok perempuan atas nama gender, pencarian akar penindasan sampai pada penciptaan pembebasan perempuan secara sejati.
Feminisme mengkonsepsikan budaya patriarkhi sebagai masalah struktural bagi perempuan, yang secara umum telah diabaikan oleh teoretisi laki-laki, yang menempatkan dominasi dalam ruang mayoritas terhadap isu ekonomi-politik yang darinya perempuan telah banyak disingkirkan, teralienasi dari kehidupan sosial.

Aliran-aliran dalam gerakan feminisme juga memiliki organisasi yang rapi, terstruktur dalam aksiaksinya. Namun, dalam tulisan ini, gerakan feminisme Marxis yang menjadi perspektif yang digunakan. Gerakan feminisme Marxis, merupakan feminisme yang berideologi Marxis. Mereka beralasan bahwa perempuan teralienasi dalam kehidupan realitas sosial yang disebabkan oleh ekonomi industri. Perempuan dipaksa untuk bekerja sebagai buruh upahan yang memproduksi apa yang mereka inginkan.
Sistem dominasi ini hanya menginginkan keuntungan dan menimbulkan pengeksploitasian, sekaligus secara tidak sadar memunculkan perampasan dan penindasan dalam segala bentuk dari kaum mayoritas. Sistem inilah yang mereka (feminism) ingin hancurkan demi mengembalikkan citra perempuan sebagai manusia yang memiliki nilai tinggi, juga memiliki kesamaan hak dan kewajiban sebagai makhluk tuhan semesta alam. Bukan hanya laki-laki yang memiliki hak dan kewajiban yang lebih dalam kehidupan realitas sosial ini.
Wajah-wajah kapitalisme dalam media relatif tidak akan dapat lenyap, dalam tradisi manuver profitdan material. Dalam kolom Opini di Kompas (13/06/05), Haryatmoko mengutip ungkapan J.Baudrillard sebagai berikut. Sudah menjadi rahasia umum, keprihatinan utama media adalah keuntungan, yang perlu dihiasi dengan pernakpernik idealisme kemanusiaan. Keuntungan hanya mungkin jika punya pengaruh. Maka, mempengaruhi dan membentuk citra bergeser menjadi obsesi media. Pencitraan mendiskualifikasikan kategori kebenaran sehingga tidak bisa dibedakan antara realitas, representasi, simulasi, kepalsuan, dan hiperrialitas (J. Baudrillard, 1981:17).

Menurut McQuail (1997)1 media kapitalis ada empat komponen aktor, yakni audience, financial agency, media production and distribution, and regulative agencies. Keempat hal inilah yang menurut McQuail, menjadi aktor besar sebagai konsepsi dalam industri media yang serba kapitalis. Namun, aktor yang dominan dalam pembentukan media massa yang kapital adalah media production dan financial agencies.Dua konsepsi lainnya merupakan komponen yang relatif terpinggirkan dalam dominasi kapitalis, audience dan regulator.
Dalam bayang-bayang pragmatisme ekonomi yang ada saat ini, penulis menyimpulkan dari pemikiran Karl Marx bahwa ekonomi menjadi basic kehidupan manusia untuk mempertahankan hidupnya. Tipologi kapitalisme adalah perjuangan kelas, antara orang-orang yang mendominasi dan didominasi alias borjuis dan proletar. Dalam buku “Sosial Theory: A Guidento Central Thinkers” yang ditulis oleh Peter Beilharz (ed.), yaitu sebagai berikut.
Sejarah bukan sekedar sejarah kelas-kelas yang berjuang, sejarah modern adalah peperangan besar antara dua kelas fundamental: borjuis dan proletar. Puncak mitologi dan pemikiran Marx adalah Capital….. Masyarakat borjuis, singkatnya, mereduksi nilai kemanusiaan menjadi nilai ekonomis, dan mereka menyeragamkan pelbagai perbedaan yang mestinya menjadi karakteristik kehidupan sehari-hari. Pembagian kelas-kelas seperti ini menyebabkan adanya kelompok yang terpinggirkan dan juga mereka seakan-akan dipaksa untuk memproduksi atau menghasilkan material (baca; profit), tanpa mengenal batas-batasan tertentu.

Secara filosofis, dealektika tradisi Marxis adalah struktur dasar ekonomi secara dogmatik yang kemudian dianggap sebagai penentu suprastruktur. Produksi dan relasi-relasi sistem ekonomi lainnya melibas semua institusi-institusi sosial yang ada. Kerakusan pada materi ini membutakannya dalam segala hal, baik struktur kehidupan manusia, etika, nilai, norma sosial, maupun agama, tidak lagi dipandang sebagai sebuah kesadaran sosial yang primer. Atas nama capital, kebutuhan akan materibersifat primer demi mempertahankan eksistensi hidup manusia, individu, dan institusi sosialnya.
Ideologi atau suprastruktur dianggap sebagai sebuah sistem konstitutif dari sebuah proses yang dicirikan oleh ketidakseimbangan kuasa dan dominasi. Oleh karena itu, muncullah kelas-kelas sosial. Determinasi ekonomi tersebut menjadi menarik diperbincangkan ke dalam berbagai aspek, sebab mainstream manusia telah tereduksi oleh kekuatan ekonomi dalam kehidupannya. Setiap kepentingan akan selalu mengarah kepada ekonomi, dalam pameonya; Saya untung, Kamu rugi. Tekanan ekonomi dalam mengeksploitasi sosok perempuan memungkinkan semua hal ini terjadi.

HANA MARINA
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar