Selasa, 22 Oktober 2013

REFLEKSI SEJARAH PENDIDIKAN INDONESIA


Oleh: Mirza Rezadi Ahmad

Dewasa ini pendidikan di Indonesia mengalami penurunan yang sangat signifikan   dibandingkan dahulu waktu berdirinya negara Indonesia ini. Jika dahulu pendidikan dijadikan motivasi dan lembaga pergerakan untuk melawan kaum kolonial, yang realitanya pada masa kolonial orang-orang pribumi tidak bebas mendapatkan pendidikan yang layak, hanya orang-orang tertentulah yang bisa mendapat pendidikan yang layak, ketika itu juga mereka(orang pribumi) mengambil langkah untuk melawan penindasan dari apa yang sudah dilakukan oleh bangsa kolonial. Tetapi dalam perkembangannya, mulai ada kemajuan bagi pendidikan mereka (orang pribumi) di masa kolonial, walaupun dalam keadaan terjajah, dan itu pun penuh akan kepentingan untuk para penjajah. Tiga abad lebih kekayaan dan keuntungan mestinya menjadi milik rakyat Indonesia telah diambil alih Pemerintahan Belanda.

   Sejarah perkembangan pendidikan Indonesia tidak terlepas dari politik etis, yaitu edukasi, irigasi, dan transmigrasi yang kebijakannya banyak dipengaruhi oleh Belanda, Theodore Van Deventer lah yang mengenalkan politik etis pada tahun 1901 dan karena gagasan inilah ia menjadi anggota parlemen. Ia adalah seorang anggota parlementer Belanda yang terpilih pada tahun 1905 melalui partai Demokrat yang sangat radikal. Dalam hal ini Van Deventer setelah menjabat di kursi parlemen Belanda, ia mempunyai gagasan yang disebut Tri Logi Van Devente yang nantinya akan melahirkan politik etis, yang seperti kita ketahui. Otomatis pendidikan di Indonesia banyak berpengaruh kepada pemerintahan Belanda.
Dalam bidang pendidikan tujuan semula Belanda yakni untuk mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murah dan mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dan setia terhadap belanda. Untuk itu Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat pribumi, dan disinilah awal penanaman pola pikir atau mindset orang Indonesia terhadap pendidikan menjadi salah, yang tadinya pendidikan adalah belajar dan mencari ilmu untuk perjuangan memanusiakan manusia berubah menjadi salah satu syarat sah untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan atau memisahkan manusia dari kemanusiaannya, hasilnya kita bisa lihat di masa sekarang ini, banyak para pelajar atau orang tua beranggapan bahwa jika kita sudah mempunyai gelar gampang mencari pekerjaannya, atau jika kita sekolah sampai perguruan tinggi mudah untuk mencari pekerjaan, persepsi inilah yang menjadikan sekolah atau unversitas salah kaprah dalam menerapkan kurikulum.
Pada Zaman colonial, memang system pendidikan tidak terlepas dari politik etis, namun kondisi social saat itu memaksa peserta didik saat itu untuk tetap setia terhadap bangsa dan negaranya sehingga dapat membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Artinya di balik penerapan politik etis dalam system pendidikan yang dilakukan Belanda, nilai nasionalisme dan patriotisme tetap bisa bangkit terutama bagikaum terpelajar. Hal itu membuktikan system pendidikan yang berwawasan kebangsaan mempunyai ketahanan yang teruji.
Bisa dikatan dalam periode 1908-1945, bahkan sampai tahun 1966 Indonesia pernah memiliki system pendidikan yang mempunyai watak cultural dan berwawasan kebangsaan. Jadi tidak mengherankan jika periode ini melahirkan tokoh-tokoh nasional yang mempunyai semangat nasionalisme dan patriotisme seperti Soekarno dan sederetan nama-nama lain yang tercatat dalam lembar sejarah.
Sejak tahun 1966 atau yang lebih dikenal dengan periode ordr baru,pendidikan yang mengandung semangat nasionalisme dan patriotism mulai memudar. Disadari atau tidak, pada titik ini terjadi dekadensi pada system pendidikan Indonesia, hal tersebut dapat dilihat dari semangat kritis dan perlawanan rakyat sedikit demi sedikit mulai hilang. Semua orang menyerah dan merasa tidak berdaya , padahal rasa keadilan sedang diinjak-injat dan diperkosa. Semangat pada periode ini hanyalah mengabdi dan menyenangkan penguasa. Dekadensi juga dapat dilihat dari institusi pendidikan , seperti sekolah yang telah menjadi bagian dari birokrasi pemerintahan untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingannya.
Secara kasat mata memang orde baru seolah sangatlah konsisten untuk menegakkan nilai-nilai Pancasila sebagai ideology bangsa seperti halnya dengan diwajibkannya masyarakat untuk mengikuti penataran P4, namun dibalik itu semua tersimpan sebuah maksud yakni proses pelegitimasian jabatannya yang ternyata didapat daripada kudeta merangkak terhadap Soekarno. P4 dijadikan alat untuk kepentingannya, sehingga dalam proses penerapan P4 pun masyarakat hanya menghafal tanpa penghayatan yang dalam, dengan demikian P4 menjadi alat indoktrinisasi dan pengotakan masyarakat Indonesia.
Pada masa sekarang yang dimulai dari reformasi 1998, pendidikan di Indonesia semakin kehilangan arahnya. Dengan diamandemen UUD1945 yang menghilangkan nilai-nilai luhur bangsa, Indonesia kehilangan ketahanan dalam hal kedaulatan. Pendidikanpun berubah tak ada bedanya dengan sector jasa. Hal tersebut bisa kita lihat dari peraturan atau UU yang dikeluarkan oleh penguasa yang terlihat tidak mempunyai keberpihakan terhadap rakyat sebaliknya malah berpihak terhadap tuan-tuan pemodal.
System pendidikan nasional menjadi liberal yang berorentasi pada pasar sehingga persepsi masyarakatpun berubah dalam memandang dunia pendidikan menjadi alat untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan. Akhirnya mental masyarakat Indonesia hanya menjadi budak bagi orang Asing, hanya sekedar menjadi peminta bukan pemilik. Karena pada hakikatnya system pendidikan yang diciptakan dengan semangat liberalisme hanyalah akan menciptakan budak-budak modern, manusia yang tidak merdeka, pelanggengan keterjajahan, dan menguntungkan bagi kapitalis.  
Fakta sejarah dunia pendidikan di Indonesia memang penuh dengan dinamika yang akhirnya melahirkan kondisi social yang seperti sekarang. Kita sebagai pemuda dan kaum akademisi tentunya tau dengan merefleksikan sejarah pendidikan Indonesia, apa dan siapa yang menghancurkan system pendidikan yang berjiwa nasionalisme dan patriotism??. Apa yang harus kita perbuat untuk menyelamatkan generasi selanjutnya yang akan menjadi penerus bangsa??.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar