Oleh: Mirza Rezadi Ahmad
Dewasa ini pendidikan di Indonesia
mengalami penurunan yang sangat signifikan
dibandingkan dahulu waktu berdirinya negara Indonesia ini. Jika dahulu
pendidikan dijadikan motivasi dan lembaga pergerakan untuk melawan kaum
kolonial, yang realitanya pada masa kolonial orang-orang pribumi tidak bebas
mendapatkan pendidikan yang layak, hanya orang-orang tertentulah yang bisa
mendapat pendidikan yang layak, ketika itu juga mereka(orang pribumi) mengambil
langkah untuk melawan penindasan dari apa yang sudah dilakukan oleh bangsa
kolonial. Tetapi dalam perkembangannya, mulai ada kemajuan bagi pendidikan
mereka (orang
pribumi) di masa kolonial, walaupun dalam keadaan terjajah, dan itu pun penuh
akan kepentingan untuk para penjajah. Tiga abad lebih kekayaan dan keuntungan mestinya menjadi
milik rakyat Indonesia telah diambil alih Pemerintahan Belanda.
Sejarah perkembangan pendidikan Indonesia tidak terlepas dari
politik etis, yaitu edukasi, irigasi, dan transmigrasi yang kebijakannya banyak
dipengaruhi oleh Belanda, Theodore Van Deventer lah yang mengenalkan politik
etis pada tahun 1901 dan karena gagasan inilah ia menjadi anggota parlemen. Ia
adalah seorang anggota parlementer Belanda yang terpilih pada tahun 1905
melalui partai Demokrat yang sangat radikal. Dalam hal
ini Van Deventer setelah menjabat di kursi parlemen Belanda, ia mempunyai
gagasan yang disebut Tri Logi Van Devente yang nantinya akan melahirkan politik
etis, yang seperti kita ketahui. Otomatis pendidikan di Indonesia banyak
berpengaruh kepada pemerintahan Belanda.
Dalam bidang pendidikan tujuan semula
Belanda yakni untuk mendapatkan tenaga kerja atau pegawai murah dan
mandor-mandor atau pelayan-pelayan yang dapat membaca dan setia terhadap
belanda. Untuk itu Belanda mendirikan sekolah-sekolah untuk rakyat
pribumi, dan disinilah awal penanaman pola pikir atau mindset
orang Indonesia terhadap pendidikan menjadi salah, yang tadinya pendidikan
adalah belajar dan mencari ilmu untuk perjuangan memanusiakan manusia berubah menjadi
salah satu syarat sah untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan atau memisahkan
manusia dari kemanusiaannya, hasilnya kita bisa lihat di masa sekarang ini, banyak
para pelajar atau orang tua beranggapan bahwa jika kita sudah mempunyai gelar
gampang mencari pekerjaannya, atau jika kita sekolah sampai perguruan tinggi
mudah untuk mencari pekerjaan, persepsi inilah yang menjadikan sekolah atau
unversitas salah kaprah dalam menerapkan kurikulum.
Pada Zaman colonial, memang
system pendidikan tidak terlepas dari politik etis, namun kondisi social saat
itu memaksa peserta didik saat itu untuk tetap setia terhadap bangsa dan
negaranya sehingga dapat membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme.
Artinya di balik penerapan politik etis dalam system pendidikan yang dilakukan
Belanda, nilai nasionalisme dan patriotisme tetap bisa bangkit terutama
bagikaum terpelajar. Hal itu membuktikan system pendidikan yang berwawasan
kebangsaan mempunyai ketahanan yang teruji.
Bisa dikatan dalam periode
1908-1945, bahkan sampai tahun 1966 Indonesia pernah memiliki system pendidikan
yang mempunyai watak cultural dan berwawasan kebangsaan. Jadi tidak
mengherankan jika periode ini melahirkan tokoh-tokoh nasional yang mempunyai
semangat nasionalisme dan patriotisme seperti Soekarno dan sederetan nama-nama
lain yang tercatat dalam lembar sejarah.
Sejak
tahun 1966 atau yang lebih dikenal dengan periode ordr baru,pendidikan yang
mengandung semangat nasionalisme dan patriotism mulai memudar. Disadari atau
tidak, pada titik ini terjadi dekadensi pada system pendidikan Indonesia, hal
tersebut dapat dilihat dari semangat kritis dan perlawanan rakyat sedikit demi
sedikit mulai hilang. Semua orang menyerah dan merasa tidak berdaya , padahal
rasa keadilan sedang diinjak-injat dan diperkosa. Semangat pada periode ini
hanyalah mengabdi dan menyenangkan penguasa. Dekadensi juga dapat dilihat dari
institusi pendidikan , seperti sekolah yang telah menjadi bagian dari birokrasi
pemerintahan untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingannya.
Secara
kasat mata memang orde baru seolah sangatlah konsisten untuk menegakkan
nilai-nilai Pancasila sebagai ideology bangsa seperti halnya dengan
diwajibkannya masyarakat untuk mengikuti penataran P4, namun dibalik itu semua
tersimpan sebuah maksud yakni proses pelegitimasian jabatannya yang ternyata
didapat daripada kudeta merangkak terhadap Soekarno. P4 dijadikan alat untuk
kepentingannya, sehingga dalam proses penerapan P4 pun masyarakat hanya
menghafal tanpa penghayatan yang dalam, dengan demikian P4 menjadi alat
indoktrinisasi dan pengotakan masyarakat Indonesia.
Pada masa
sekarang yang dimulai dari reformasi 1998, pendidikan di Indonesia semakin
kehilangan arahnya. Dengan diamandemen UUD1945 yang menghilangkan nilai-nilai
luhur bangsa, Indonesia kehilangan ketahanan dalam hal kedaulatan.
Pendidikanpun berubah tak ada bedanya dengan sector jasa. Hal tersebut bisa
kita lihat dari peraturan atau UU yang dikeluarkan oleh penguasa yang terlihat
tidak mempunyai keberpihakan terhadap rakyat sebaliknya malah berpihak terhadap
tuan-tuan pemodal.
System
pendidikan nasional menjadi liberal yang berorentasi pada pasar sehingga
persepsi masyarakatpun berubah dalam memandang dunia pendidikan menjadi alat
untuk mendapatkan ijazah dan pekerjaan. Akhirnya mental masyarakat Indonesia
hanya menjadi budak bagi orang Asing, hanya sekedar menjadi peminta bukan
pemilik. Karena pada hakikatnya system pendidikan yang diciptakan dengan
semangat liberalisme hanyalah akan menciptakan budak-budak modern, manusia yang
tidak merdeka, pelanggengan keterjajahan, dan menguntungkan bagi kapitalis.
Fakta sejarah dunia
pendidikan di Indonesia memang penuh dengan dinamika yang akhirnya melahirkan
kondisi social yang seperti sekarang. Kita sebagai pemuda dan kaum akademisi
tentunya tau dengan merefleksikan sejarah pendidikan Indonesia, apa dan siapa
yang menghancurkan system pendidikan yang berjiwa nasionalisme dan
patriotism??. Apa yang harus kita perbuat untuk menyelamatkan generasi
selanjutnya yang akan menjadi penerus bangsa??.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar