Oleh: Yoga
Ki
Hadjar Dewantara masa kecilnya bernama R.M. Soewardi Surjaningrat, lahir pada
hari Kamis Legi, tanggal 02 Puasa tahun Jawa, bertepatan dengan tanggal 2 Mei
1889 M. Ayahnya bernama G.P.H. Surjaningrat putra Kanjeng Hadipati Harjo Surjo
Sasraningrat yang bergelar Sri Paku Alam ke-III. Ibunya adalah seorang putri
keraton Yogyakarta yang lebih dikenal sebagai pewaris Kadilangu keturunan
langsung Sunan Kalijogo (Darsiti Suratman, 1985: 2).
Ki
Hadjar Dewantara pertama kali masuk Europeesche Lagere School. Setelah tamat
dari Europeesche Lagere School, Ki Hadjar melanjutkan pelajarannya ke STOVIA,
singkatan dari School Tot Opleiding Van Indische Arsten. Ki Hadjar tidak
menamatkan pelajaran di STOVIA. Ki Hajar juga mengikuti pendidikan sekolah guru
yang disebut Lagere Onderwijs, hingga berhasil mendapatkan ijasah (Irna H.N.,
Hadi Soewito, 1985: 16).
Bersama
dengan Tjipto Mangunkusumo pada permulaan Juli 1913 membentuk “Committee tot
Herdenking van Nederlandsch Honderdjarige Vrijheid” (panitia peringatan 100
tahun kemerdekaan Nederland) yang dalam bahasa Indonesia disingkat “Komisi Bumi
Putra”. Panitia bermaksud akan mengeluarkan isi hati rakyat, memprotes adanya
perayaan kemerdekaan Belanda karena rakyat Indonesia dipaksa secara halus harus
memungut uang sampai ke pelosok-pelosok.
Akibat terlalu banyak
protes dalam artikel dan tulisan di brosur ketiga pemimpin Indische Party (tiga
serangkai) ditangkap dan ditahan. Dalam waktu yang amat singkat, pada 18
Agustus 1913 keluarlah surat dari wali negara untuk ketiga pemimpin tersebut.
Ketiganya dikenakan hukuman buang; Soewardi ke Bangka, Tjipto Mangunkusumo ke
Banda Neira, dan Douwes Dekker ke Timur Kupang. Keputusan itu disertai
ketetapan bahwa mereka bebas untuk berangkat keluar jajahan Belanda. Ketiganya
ingin mengganti hukuman interniran dengan hukuman externir, dan memilih negeri
Belanda sebagai tempat pengasingan mereka.
Ketika di negeri
Belanda perhatian Soewardi Soejaningrat tertarik pada masalah-masalah
pendidikan dan pengajaran di samping bidang sosial politik. Ia menambah
pengetahuannya dalam bidang pendidikan dan pada tahun 1915 memperoleh akte
guru. Tokoh-tokoh besar dalam bidang pendidikan mulai dikenalnya, antara lain;
J.J. Rousseau, Dr. Frobel, Dr. Montessori, Rabindranath Tagore, John Dewey, dan
Kerschensteiner. Frobel ahli pendidikan terkenal dari Jerman pendiri “Kindergarten”.
Montessori sarjana wanita dari Italia pendiri “Casa dei Bambini”.
Rabindranath Tagore, pujangga terkenal dari India, pendiri perguruan “Santi
Niketan”.
Pengalaman Ki Hadjar
Dewantara dan kawan-kawannya di lapangan perjuangan politik, dengan melalui
berbagai rintangan, penjara dan pembuangan dengan segala hasilnya, menimbulkan
pikiran baru untuk meninjau cara-cara dan jalan untuk menuju kemerdekaan
Indonesia (Muchammad Tauchid, 1963: 29). Ki Hadjar Dewantara yang terus
berjuang tak kenal lelah tersebut dalam menghadapi berbagai masalah, ternyata
dia menaruh perhatian terhadap pendidikan karakter bangsa.
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah upaya yang
terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal, peduli dan menginternalisasi
nilai-nilai sehingga peserta didik berperilaku sebagai insan kamil, dimana
tujuan pendidikan karakter adalah meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah melalui pembentukan karakter peserta didik secara utuh,
terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan.
Ki Hadjar Dewantara telah jauh
berpikir dalam masalah pendidikan karakter. Mengasah kecerdasan budi sungguh
baik, karena dapat membangun budipekerti yang baik dan kokoh, hingga dapat
mewujudkan kepribadian (persoonlijkhheid) dan karakter (jiwa yang
berasas hukum kebatinan). Jika itu terjadi orang akan senantiasa dapat
mengalahkan nafsu dan tabiat-tabiatnya yang asli (bengis, murka, pemarah,
kikir, keras, dan lain-lain) (Ki Hadjar Dewantara dalam Majelis Luhur Persatuan
Tamansiswa: 1977: 24).
Selanjutnya Ki Hadjar
Dewantara mengatakan, yang dinamakan “budipekerti” atau watak atau dalam bahasa
asing disebut “karakter” yaitu “bulatnya jiwa manusia” sebagai
jiwa yang “berasas hukum kebatinan”. Orang yang memiliki kecerdasan
budipekerti itu senantiasa memikir-mikirkan dan merasa-rasakan serta
selalu memakai ukuran, timbangan, dan dasar-dasar yang pasti dan
tetap. Itulah sebabnya orang dapat kita kenal wataknya dengan pasti;
yaitu karena watak atau budipekerti itu memang bersifat tetap dan pasti.
*diambil
dari berbagai sumber
Tidak ada komentar:
Posting Komentar