Konon katanya, dulu tepatnya masa
revolusi, terjadi perdebatan yang sangat sengit antara lembaga-lembaga
kebudayaan saat itu. Tentu saja perdebatan yang terjadi berkaitan dengan
soal-soal gagasan kebudayaan khususnya sesuai dengan konteks sosial waktu itu.
Perdebatan waktu itu terjadi antara kelompok yang mengusung konsep humanisme
yang begitu universal sehingga enggan menjadikan seni semata sebagai medium
eksploitasi ideologi dan politik, lebih suka pada kebebasan karya termasuk
bentuk bahasa, pencarian struktur. Maka karyanya pun lebih bicara tentang
kemanusiaan yang tak terjebak politik partisan, mengeksplorasi bahasa,
permainan struktur dan bereksperimen bentuk penyajian teks. Sepintas kelompok
ini nampak netral dalam artian tidak berpihak terhadap golongan manapun, namun
jika kita perhatikan kenetralannya adalah keberpihakannya karena cenderung
merelakan yang kuat bertambah kuat dan yang lemah wajar untuk dijajah. Sementara
kelompok lawannya membawa gagasan peduli pada kelompok tertentu terutama
kelompok yang lemah. Bagi anggota kelompok ini seni bukan hanya sekedar untuk
seni, namun seni harus berpihak terhadap cita-cita kemanusiaan yakni turut
menghilangkan penghisapan manusia pada manusia yang lainnya.
Mungkin sebagian orang sekarang menganggap perdebatan
seperti diatas adalah perdebatan klasik antara lembaga kebudayaan yang
sama-sama mempunyai kepentingan politik pada waktu itu. Namun tidaklah dapat
kita pungkiri bahwa perdebatan tersebut telah mengisi catatan sejarah dan
dinamika kebudayaan di Indonesia. Yang lebih penting untuk diperhatikan dalam
perdebatan tersebut bagi generasi
sekarang adalah gagasan kebudayaan yang menunjukan adanya kejelasan sikap
politik yang dibawa oleh lembaga kebudayaan tersebut.
Sangat berbeda dengan apa yang sedang
terjadi saat ini, kerja-kerja kebudayaan nampaknya sudah terpisah jauh daripada
dunia politik, sehingga nampak tidak punya sikap seperti yang pernah terjadi
dulu, bahkan dari lingkaran sosial yang seharusnya menjadi inspirasi bagi
penggiat kebudayaan. Dunia politik yang dicitrakan sebagai sesuatu yang kotor,
najis, haram dan lain sebagainya membuat penggiat kebudayaan enggan untuk
berhubungan, bahkan enggan untuk menuaikan kegelisahan-kegelisahan dalam bentuk
kerja kebudayaannya. Fakta ini terlihat dari pernyataan seorang kawan penggiat
paguyuban kebudayaan yang menyatakan alergi terhadap sesuatu yang berbau
politik, bahkan sampai pada tingkat menuduh dunia politik sebagai faktor pengeksploitasi
kebudayaan, sehingga mereka menjadi apolitis.
Sementara, terpisahnya kerja kebudayaan
dari lingkaran sosial yang seharusnya menginspirasi dalam menghasilkan karya
terlihat dari gaya hidup penggiat kebudayaan yang eksklusif, tidak mau bergaul dengan
orang, berlebih-lebihan, juga ingin dilihat sempurna oleh orang lain seperti
mengadakan acara ditempat yang mewah yang terpisah jauh dari realita rakyat
sesungguhnya. Memang masih banyak karya penggiat kebudayaan yang mencoba
mengangkat masalah-masalah sosial yang dihadapi rakyat sekarang, namun jika
merujuk dengan apa yang sudah tertulis di atas tidak ada salahnya jika kita
samakan penggiat kebudayaan sekarang dengan pejabat-pejabat publik yang
berkarya mengumbar janji dalam panggung politik.
Saya mencoba mencari faktor yang
menyebabkan perbedaan antara dulu dan sekarang. Namun, setelah saya renungkan,
ternyata paradigma yang berkembang masa itu dan sekarang sudah mengalami
perbedaan besar. Hal itu dikarenakan pada era dulu, seluruh dunia sedang
gandrung akan ideologi besar yang sedang bertarung dan berebut pengaruh
khususnya di Indonesia. Faktor lain adalah terjadinya konflik wacana antara
lembaga kebudayaan yang satu dan yang lain khususnya antara kelompok Lekra dan
Manikebu waktu itu. Hal tersebut memacu penggiat kebudayaan pada waktu itu
untuk eksis dan turut dalam pertarungan yang sedang berlangsung. Zaman
sekarang, masyarakat telah menanggalkan baju ideologi besar, menjadi
demokratis, pluralistic. Kendati ada penajaman ideologi dalam kelompok agama
yang sebagian kecil radikal, namun hal itu tidak memunculkan gairah bagi
kelompok lain untuk ikut menajamkan ideology. Jelaslah kondisi dulu dan
sekarang tidak bisa disamakan.
Melihat fakta yang sedemikian jauhnya
dengan apa yang tertulis dalam sejarah membuat mandek bahkan buram makna peran
kebudayaan dalam mendukung proses perubahan yang lebih maju. Hal tersebut
membuat keresahan tersendiri bagi penulis untuk mencari dan memahami kerja
kebudayaan yang sesuai dengan zaman sekarang dalam mendorong terjadinya proses
perubahan ke arah yang lebih maju. Ataukah memang hal tersebut sudah tidak
diperlukan sehingga para penggiat kebudayaan harus banting setir untuk menjadi
selebritis yang hidup dalam keglamoran dan slalu menjadi corong perubahan yang
lebih modern dan gaul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar