Selasa, 08 Oktober 2013

PERGESERAN PARADIGMA KEBUDAYAAN


Konon katanya, dulu tepatnya masa revolusi, terjadi perdebatan yang sangat sengit antara lembaga-lembaga kebudayaan saat itu. Tentu saja perdebatan yang terjadi berkaitan dengan soal-soal gagasan kebudayaan khususnya sesuai dengan konteks sosial waktu itu. Perdebatan waktu itu terjadi antara kelompok yang mengusung konsep humanisme yang begitu universal sehingga enggan menjadikan seni semata sebagai medium eksploitasi ideologi dan politik, lebih suka pada kebebasan karya termasuk bentuk bahasa, pencarian struktur. Maka karyanya pun lebih bicara tentang kemanusiaan yang tak terjebak politik partisan, mengeksplorasi bahasa, permainan struktur dan bereksperimen bentuk penyajian teks. Sepintas kelompok ini nampak netral dalam artian tidak berpihak terhadap golongan manapun, namun jika kita perhatikan kenetralannya adalah keberpihakannya karena cenderung merelakan yang kuat bertambah kuat dan yang lemah wajar untuk dijajah. Sementara kelompok lawannya membawa gagasan peduli pada kelompok tertentu terutama kelompok yang lemah. Bagi anggota kelompok ini seni bukan hanya sekedar untuk seni, namun seni harus berpihak terhadap cita-cita kemanusiaan yakni turut menghilangkan penghisapan manusia pada manusia yang lainnya. 

Mungkin sebagian orang sekarang menganggap perdebatan seperti diatas adalah perdebatan klasik antara lembaga kebudayaan yang sama-sama mempunyai kepentingan politik pada waktu itu. Namun tidaklah dapat kita pungkiri bahwa perdebatan tersebut telah mengisi catatan sejarah dan dinamika kebudayaan di Indonesia. Yang lebih penting untuk diperhatikan dalam perdebatan tersebut bagi generasi sekarang adalah gagasan kebudayaan yang menunjukan adanya kejelasan sikap politik yang dibawa oleh lembaga kebudayaan tersebut.


Sangat berbeda dengan apa yang sedang terjadi saat ini, kerja-kerja kebudayaan nampaknya sudah terpisah jauh daripada dunia politik, sehingga nampak tidak punya sikap seperti yang pernah terjadi dulu, bahkan dari lingkaran sosial yang seharusnya menjadi inspirasi bagi penggiat kebudayaan. Dunia politik yang dicitrakan sebagai sesuatu yang kotor, najis, haram dan lain sebagainya membuat penggiat kebudayaan enggan untuk berhubungan, bahkan enggan untuk menuaikan kegelisahan-kegelisahan dalam bentuk kerja kebudayaannya. Fakta ini terlihat dari pernyataan seorang kawan penggiat paguyuban kebudayaan yang menyatakan alergi terhadap sesuatu yang berbau politik, bahkan sampai pada tingkat menuduh dunia politik sebagai faktor pengeksploitasi kebudayaan, sehingga mereka menjadi apolitis.
Sementara, terpisahnya kerja kebudayaan dari lingkaran sosial yang seharusnya menginspirasi dalam menghasilkan karya terlihat dari gaya hidup penggiat kebudayaan yang eksklusif, tidak mau bergaul dengan orang, berlebih-lebihan, juga ingin dilihat sempurna oleh orang lain seperti mengadakan acara ditempat yang mewah yang terpisah jauh dari realita rakyat sesungguhnya. Memang masih banyak karya penggiat kebudayaan yang mencoba mengangkat masalah-masalah sosial yang dihadapi rakyat sekarang, namun jika merujuk dengan apa yang sudah tertulis di atas tidak ada salahnya jika kita samakan penggiat kebudayaan sekarang dengan pejabat-pejabat publik yang berkarya mengumbar janji dalam panggung politik.

Saya mencoba mencari faktor yang menyebabkan perbedaan antara dulu dan sekarang. Namun, setelah saya renungkan, ternyata paradigma yang berkembang masa itu dan sekarang sudah mengalami perbedaan besar. Hal itu dikarenakan pada era dulu, seluruh dunia sedang gandrung akan ideologi besar yang sedang bertarung dan berebut pengaruh khususnya di Indonesia. Faktor lain adalah terjadinya konflik wacana antara lembaga kebudayaan yang satu dan yang lain khususnya antara kelompok Lekra dan Manikebu waktu itu. Hal tersebut memacu penggiat kebudayaan pada waktu itu untuk eksis dan turut dalam pertarungan yang sedang berlangsung. Zaman sekarang, masyarakat telah menanggalkan baju ideologi besar, menjadi demokratis, pluralistic. Kendati ada penajaman ideologi dalam kelompok agama yang sebagian kecil radikal, namun hal itu tidak memunculkan gairah bagi kelompok lain untuk ikut menajamkan ideology. Jelaslah kondisi dulu dan sekarang tidak bisa disamakan.
Melihat fakta yang sedemikian jauhnya dengan apa yang tertulis dalam sejarah membuat mandek bahkan buram makna peran kebudayaan dalam mendukung proses perubahan yang lebih maju. Hal tersebut membuat keresahan tersendiri bagi penulis untuk mencari dan memahami kerja kebudayaan yang sesuai dengan zaman sekarang dalam mendorong terjadinya proses perubahan ke arah yang lebih maju. Ataukah memang hal tersebut sudah tidak diperlukan sehingga para penggiat kebudayaan harus banting setir untuk menjadi selebritis yang hidup dalam keglamoran dan slalu menjadi corong perubahan yang lebih modern dan gaul.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar